
RD. Chrisanctus Paschalis Saturnus, Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Pangkalpinang Ketua KKPPMP Keuskupan Pangkalpinang ajak masyarakat membuka mata, hati dan tangan untuk melawan perdagangan orang

Perdagangan orang bukanlah persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat. Kejahatan tersebut dapat tumbuh ketika penderitaan korban tidak lagi mengusik hati dan ketika masyarakat memilih untuk melihat tetapi tidak terlibat.
Pesan tersebut disampaikan RD. Chrisanctus Paschalis Saturnus, Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKPPMP) Keuskupan Pangkalpinang, dalam Seminar Internasional Minggu Migran dan Pengungsi 2026 yang diselenggarakan Stella Maris Batam di Pacific Palace Hotel, Batam, 20 September 2026.
Mengangkat tema “Melawan Banalitas Kejahatan (Perdagangan Orang): Belajar dari Spirit Para Migran Perantau dalam Sejarah Gereja Keuskupan Pangkalpinang”, RD. Paschal mengajak peserta untuk melihat persoalan perdagangan orang bukan semata-mata sebagai persoalan hukum atau tugas pemerintah, tetapi sebagai persoalan kemanusiaan yang membutuhkan keterlibatan bersama.

Ketika kejahatan mulai dianggap biasa
Dalam paparannya, RD. Paschal mengangkat gagasan “banalitas kejahatan” dengan merujuk pada pemikiran Hannah Arendt. Ia mengingatkan bahwa kejahatan dapat menjadi “biasa” ketika penderitaan manusia tidak lagi mengganggu hati nurani.
Ia menggambarkan sejumlah sikap yang sering muncul ketika masyarakat berhadapan dengan perdagangan orang: mempertanyakan apakah perdagangan orang benar-benar terjadi di sekitar mereka, menganggap persoalan tersebut semata-mata urusan pemerintah, berdoa tetapi tidak mau mengetahui persoalannya, melihat tetapi tidak mau terlibat, bahkan mendengar kesaksian korban namun justru menghakimi mereka.
Bagi RD. Paschal, sikap semacam itu justru dapat membuat kejahatan semakin mudah dinormalisasi.
Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk tidak berhenti pada rasa prihatin, tetapi memiliki keberanian untuk mengenali persoalan, mendengarkan korban dan mengambil bagian dalam upaya perlindungan.
Gereja lahir dari perjalanan para migran
Salah satu bagian penting dalam paparan RD. Paschal adalah refleksi mengenai sejarah Gereja di Keuskupan Pangkalpinang.
Ia mengingatkan bahwa Gereja sendiri bertumbuh dari perjalanan para migran dan perantau yang membawa serta menanamkan iman. Karena itu, Gereja tidak boleh melupakan mereka yang hidup dalam pengalaman migrasi dan perantauan.
“Gereja yang dibangun oleh migran-perantau tidak boleh menjadi gereja yang melupakan para migran-perantau,” menjadi salah satu pesan utama yang ditampilkan dalam materi tersebut.
Refleksi tersebut kemudian dihubungkan dengan sejarah lokal Keuskupan Pangkalpinang. Dalam paparannya, RD. Paschal mengangkat sejumlah kisah perjalanan umat dan komunitas perantau, termasuk Paulus Tjen On Ngie (1795–1871) serta komunitas nelayan Katolik di Sungai Bawah, Moro, pada periode 1920–1925.
Ia juga menampilkan sejarah para perantau dari Flores yang pada dekade 1950-an tersebar di berbagai wilayah Kepulauan Riau, antara lain Senayang, Batam, Tanjungpinang, Karimun, Tarempa dan Natuna. Salah satu kisah yang diangkat adalah perjalanan Om Petrus Piatu Atawollo yang merantau pada 1963 ketika berusia 19 tahun bersama sejumlah sahabatnya.
Minggu Migran sebagai cermin dan perutusan
Menutup paparannya, RD. Paschal memberikan refleksi yang kuat mengenai makna Minggu Migran. Menurutnya, Minggu Migran adalah cermin untuk mengingat siapa yang telah menanam dan membangun perjalanan iman; Minggu Migran adalah teguran untuk bertanya apakah masyarakat masih memiliki kepekaan; sekaligus Minggu Migran adalah perutusan untuk menentukan apa yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.*

Tidak ada komentar