x

Jessica Sparks Ungkap Kondisi Kerja Nelayan Migran Indonesia di Armada Perikanan Eropa

waktu baca 3 menit
Selasa, 6 Okt 2026 04:06 14 admin

Persoalan perlindungan dan kesejahteraan pekerja migran menjadi salah satu perhatian dalam rangkaian kegiatan Minggu Migran & Pengungsi 2026 yang diselenggarakan oleh Stella Maris Batam di Hotel Pasicif, Minggu (20/9/2026). Dalam panel diskusi tersebut, Dr. Jessica Sparks dari Friedman School of Nutrition Science and Policy, Tufts University, Amerika Serikat, memaparkan hasil penelitian mengenai kondisi kerja nelayan migran Indonesia yang bekerja di armada perikanan Eropa.

Dalam sesi yang juga melibatkan Dhini Purnamasari, Jessica Sparks menyampaikan penelitian bertajuk “Memahami Kondisi Kerja Nelayan Indonesia di Armada Kapal Eropa.” Penelitian tersebut mengkaji pengalaman nelayan migran Indonesia yang bekerja pada kapal dengan kepemilikan maupun bendera Eropa, termasuk kapal yang menggunakan flag of convenience.

Penelitian ini menggunakan data survei terhadap 339 responden yang bekerja pada armada perikanan pesisir maupun laut lepas. Responden berasal dari kapal-kapal Perancis, Spanyol, dan Irlandia, dengan data yang dikumpulkan sepanjang 2021–2024. Selain survei, penelitian juga dilengkapi dengan 13 wawancara semi-terstruktur terhadap nelayan yang bekerja di kapal berbendera Irlandia pada 2026.

Persoalan Upah dan Kondisi Kerja

Dalam pemaparannya, Jessica menyoroti sejumlah persoalan yang ditemukan dalam penelitian, terutama berkaitan dengan upah dan kondisi kerja. Data penelitian menunjukkan bahwa 81 persen responden memperoleh upah di bawah standar minimum nasional, sementara 71 persen menerima pembayaran yang lebih rendah dari ketentuan perjanjian. Selain itu, terdapat sistem bonus yang bergantung pada hasil tangkapan, sementara sebagian nelayan disebut tidak diperbolehkan menyaksikan proses pendaratan hasil tangkapan untuk melakukan verifikasi perhitungan bonus.

Penelitian juga menemukan adanya potongan upah yang tidak dijelaskan dan tidak terduga, tingginya biaya rekrutmen dan utang selama masa kontrak, serta persoalan kurangnya waktu istirahat. Beberapa temuan lainnya mencakup diskriminasi, kondisi kerja yang tidak aman, persoalan kontrak, serta pembayaran upah yang dilakukan melalui agen, bukan langsung oleh pemberi kerja.

Temuan tersebut oleh tim peneliti ditempatkan dalam konteks adanya defisit pekerjaan layak bagi sebagian nelayan migran Indonesia yang bekerja di armada perikanan Eropa.

Peran Besar Perantara Tenaga Kerja

Salah satu temuan penting yang disampaikan dalam panel adalah kuatnya peran perantara tenaga kerja dalam menentukan pengalaman nelayan sejak proses rekrutmen hingga menjalani pekerjaan. Menurut hasil penelitian, proses rekrutmen langsung tampak berkaitan dengan kondisi kerja yang lebih baik. Para nelayan juga menyampaikan pentingnya otonomi dalam bekerja. Di sisi lain, status imigrasi turut memengaruhi struktur gaji dan kondisi kerja yang dialami pekerja.

Penelitian juga mencatat adanya persoalan terkait kurangnya dukungan pemerintah Indonesia di negara tempat nelayan bekerja, termasuk dalam konteks dukungan melalui perwakilan Indonesia di Inggris, serta adanya ketegangan yang berkaitan dengan status keimigrasian di dalam komunitas Indonesia.

Kerentanan terhadap Perdagangan Manusia

Perhatian khusus diberikan kepada tiga partisipan penelitian yang juga merupakan korban perdagangan manusia. Dalam wawancara, ditemukan adanya tekanan atau pengaruh kuat dari perantara tenaga kerja, waktu yang tidak memadai bagi calon pekerja untuk mempertimbangkan dan mengambil keputusan terkait pekerjaan, serta persoalan utang yang membuat pekerja mengalami kesulitan untuk meninggalkan pekerjaan tersebut.

Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan pekerja migran tidak hanya berkaitan dengan besaran upah, tetapi juga menyangkut proses perekrutan, akses terhadap informasi pekerjaan, hubungan dengan agen atau perantara, status keimigrasian, keamanan kerja, serta kemampuan pekerja untuk mengambil keputusan secara bebas.

Membuka Ruang Penelitian Lebih Lanjut

Jessica Sparks juga menyampaikan sejumlah pertanyaan yang menjadi arah penelitian selanjutnya. Di antaranya adalah bagaimana nelayan migran Indonesia menjalani proses mencari pekerjaan dalam rantai pasok hasil perikanan, bagaimana mereka memperoleh informasi mengenai pekerjaan, serta bagaimana biaya keberangkatan dibayarkan.

Penelitian selanjutnya juga akan melihat pengalaman ketahanan pangan nelayan migran Indonesia selama bekerja di kapal dan bagaimana pengalaman tersebut dipengaruhi oleh kondisi kerja yang mereka hadapi.*

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x